Sains

Alasan Psikologis TikTok Digilai Banyak Orang

howdyindonesia.com – Beberapa tahun lalu, orang-orang banyak mencibir melejitnya seorang bocah bernama Bowo Alpenliebe lewat aplikasi bernama TikTok. Kebanyakan orang menganggap apa yang dilakukan Bowo dengan akun TikTok-nya sebagai aktivitas yang tidak jelas, buang-buang waktu, dan tidak penting.

Tapi itu dulu. Di akhir 2019, orang-orang berbalik arah dengan ramai-ramai menggunakan TikTok. Aplikasi buatan China itu bahkan menembus angka 682 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Grafik pertumbuhan pesat pengguna sebuah aplikasi itu tak pernah kita lihat setelah menjamurnya aplikasi Pokemon Go beberapa tahun silam.

Lantas apa yang membuat TikTok sukses? Tulisan ini tak akan membedah faktor keberhasilan TikTok dari segi pemasarannya. Namun, lebih kepada faktor psikologis mansusia yang membuat TikTok banyak digilai.

Dilansir dari Forbes, Dr. Julie Albright, seorang profesor dan penulis dari University of Southern California berbicara penjelasan ilmiah di balik digilainya TikTok oleh banyak orang. Menurut Albright, pada saat kita menggunakan aplikasi, pada dasarnya kita sedang membius diri kita sendiri.

“Anda akan berada dan terbawa dalam kondisi dopamin yang menyenangkan ini. Hampir menghipnotis, Anda akan terus menonton dan menonton,” ucap Albright kepada John Koetsier, kontributor Forbes.

“Ketika Anda menggulirkan scroll, terkadang Anda melihat foto atau sesuatu yang menyenangkan dan menarik perhatian Anda. Kemudian Anda mendapatkan dopamin kecil itu memengaruhi otak, di pusat kesenangan otak. Jadi Anda ingin terus scroll ke bawah,” kata Albright

Anda terus menggulirkan scroll ke bawah, kata Albright. Sebab, di timeline, kadang-kadang Anda melihat sesuatu yang Anda sukai, dan terkadang tidak. Prinsipnya mirip dengan mesin slot yang biasa digunakan dalam judi.

Julie Albright merupakan penulis buku Left To Their Own Devices: How Digital Natives Are Reshaping the American Dream.

Lebih lanjut menurut Albright, platform seperti TikTok, termasuk Instagram dan juga Snapchat telah mengadopsi prinsip yang sama dalam membuat penggunanya kecanduan seperti tengah berjudi.

“Dalam istilah psikologis, hal itu disebut penguatan acak,” kata Albright.

“Terkadang kamu menang, terkadang kamu kalah. Dan begitulah platform ini dirancang, mereka persis seperti mesin slot yang membuat kecanduan,” tutur Albright. (hi/suf)

Yusuf Harfi
Media, jurnalistik, dan budaya urban. Temui saya di media sosial @yusufharfi
http://www.howdyindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *