Urban

Disertasi UGM: Sebagian Wilayah Yogyakarta Tak Nyaman Ditinggali

howdyindonesia.com – Sebagai destinasi wisata sekaligus kota tujuan para mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan, Yogyakarta mengalami perkembangan lahan yang cukup pesat. Tak hanya kawasan perkotaan saja, kawasan penyangga kota juga mendapat imbas cepatnya laju pembangunan, terlebih sejak dibangunnya jalan lingkar Yogyakarta pada tahun 1990.

Cepatnya lajur perkembangan kota membuat sebagian wilayah di Yogyakarta tak nyaman untuk ditinggali. Hal itu lah yang menjadi sorotan Iswari Nur Hidayati dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat disertasinya berjudul Penyusunan Model Urban Biophysical Environment Quality Wilayah Perkotaan Yogyakarta Berdasarkan Karakteristik Spektral Citra dan Data Multi Resolusi.

Menurutnya, perkembangan kota yang pesat sangat memengaruhi tingkat kenyamanan sebuah wilayah untuk ditinggali.

“Proses ekspansi ini sangat berpengaruh pada kenyamanan lingkungan tempat tinggal suatu daerah. Ekspansi lahan terbangun yang tidak terkontrol juga mengakibatkan hilangnya lahan vegetasi perkotaan,” urai Iswari dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (2/8).

Iswari menjelaskan, dari pemodelan disertasinya itu, diketahui bahwa sebesar 2,75 persen dari area penelitian dikategorikan sebagai kawasan yang sangat tidak nyaman untuk ditinggali yakni seluas 346,35 hektare. Kawasan tersebut terdistribusi pada Kabupaten Bantul, yakni di sebagian Kecamatan Banguntapan, Kasihan, Piyungan, hingga Sewon. 

Selanjutnya, kawasan tak nyaman untuk ditinggali di Kota Yogyakarta terdistribusi di sebagian Kecamatan Danurejan, Gondomanan, Jetis, Kotagede, Kraton, Mantrijeron, Ngampilam, dan Wirobrajan. Sedangkan di Kabupaten Sleman terdistribusi di Kecamatan Berbah dan Depok.

Indikator yang digunakan dalam mengukur ketidaknyamanan tersebut yakni banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang berkonsekuensi mengeluarkan asap, terutama di kawasan jalan lingkar atau ringroad. Polusi udara akibat asap kendaraan bermotor tersebut menyebabkan penurunan kualitas udara di Kota Yogyakarta.

“Di beberapa wilayah perkotaan Yogyakarta mengalami penurunan kualitas, tingkat karbonmonoksida dan PM10 (partikel udara berukuran kcil) termasuk dalam kategori sedang. Oleh sebab itu, pemerintah Yogyakarta perlu mengambil langkah antisipatif terkait hal itu,” tegasnya. (hi/suf)

Yusuf Harfi
Media, jurnalistik, dan budaya urban. Temui saya di media sosial @yusufharfi
http://www.howdyindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *